Tugas DBK – Artikel nomor 3

POTRET MAHASISWA BERPRESTASI UGM

 

Kali ini potret seorang mahasiswa berprestasi yang akan saya angkat ke dalam artikel ini adalah Muhammad Rizki atau yang lebih akrab dipanggil rizki atau pepi. Panggilan pepi ini sudah melekat sedari SMP, mungkin karena mirip dengan artis Peppy kali ya. Hehe. Kak Pepi lahir di Kota Padang, 9 Agustus 1993, anak bungsu dan laki-laki satu-satunya dari tiga bersaudara. Kak Pepi berkuliah di Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, angkatan 2012. Tepat tahun lalu Kak Pepi dianugerahkan sebagai Mahasiswa Berprestasi Fakultas Hukum Tahun 2015 dan finalis 10 besar Mahasiswa Berprestasi UGM pada tahun yang sama.

Berbicara tentang hobi, Kak Pepi ini hobi berolahraga seperti bermain futsal dan badminton. Kak Pepi sangat menyukai travelling, baik dalam arti berkelana ke tempat-tempat wisata yang ada di Indonesia atau luar negeri, maupun kegiatan outdoor seperti camping dan hiking. Selain itu, In “me” time Kak Pepi juga suka menghabiskan waktu dengan membaca novel-novel inspiratif, menulis jurnal pengalaman pribadi, menonton bioskop, atau hang out menghabisakan waktu bersama teman-temannya seperti karaoke, paintball, makan-makan, nongkrong, dan lain-lain.

Kak Pepi memulai jenjang pendidikan di bangku SD Pertiwi 2 Kota Padang, setelah merasakan indahnya taman kanak-kanak selama 2 tahun, Kak Pepi masih beruntung merasakan awalnya pendidikan di TK akan pentingnya awal pembelajaran dan kepribadian, perjalanan Kak Pepi di bangku SD berjalan stagnan, tak ada prestasi yang cukup berarti selain hanya berkutat di peringkat 10 besar hingga menamatkan tingkat SD ini. Hidup Kak Pepi penuh dengan suka tawa, mempunyai orang tua yang sangat mendukung Kak Pepi, sebagai anak bungsu yang pastinya sangat dimanja. Akan tetapi, batu terjal dalam kapal mulai berguncang di saat kelas 4 SD, Kak Pepi harus menghadapi kenyataan hidup, role modelnya dalam hidup yaitu ayah, harus pergi meninggalkan Kak Pepi dan keluarganya, di saat kakak pertamanya harus merantau untuk melanjutkan tingkat perguruan tinggi di ibukota, kakak keduanya yang akan menghadapi ujian tingkat akhir di bangku SMA, dan mamanya yang harus berjuang seorang diri melanjutkan estafet sebagai kepala keluarga, dulu yang segala keinginan Kak Pepi selalu dipenuhi oleh sang ayahanda, masih terngiang dalam pikirannya, setiap hari dijemput antar oleh Ayahnya, menemani beliau untuk melakukan cuci darah sebagai terapi penyembuhan penyakit ginjal yang beliau derita bertahun-tahun, atau menemani beliau saat bekerja di salah satu pertokoan tekstil di Pasar Raya Kota yang disebut sebagai kota bengkuang ini, bersuka ria, tanpa ada beban dalam hidup, namun semuanya harus terhalang ketika sang Ayah dipanggil Yang Maha Kuasa, ini beban keduanya setelah neneknya meninggalkan Kak Pepi setahun sebelumnya, neneknya yang sangat menyayanginya, selalu membelikan apa yang Kak Pepi inginkan, Sate Padang, Mie Ayam, Bakso, Es Podeng atau memasak masakan yang begitu lezat untuk Kak Pepi dan menemani waktu Kak Pepi sehabis pulang sekolah karena orang tua Kak Pepi yang harus bekerja hingga petang hari pun telah pergi ke Rahmatullah.

Peristiwa-peristiwa tersebut menjadi faktor kebandelan Kak Pepi hingga jenjang bangku SMA, walaupun mendapatkan nilai Ujian Nasional yang tinggi di bangku SD dan SMP yang membuatnya dapat bersekolah di SMP dan SMA favorit di kota Padang, prestasi Kak Pepi biasa-biasa saja, bahkan tak pernah mendapatkan peringkat sepuluh besar selayaknya di bangku SD dahulu, faktor kehilangan Ayah yang dulu cukup keras mendidik Kak Pepi, yang tak segan mengeluarkan ikat pinggangnya jika Kak Pepi meninggalkan shalat 5 waktu atau membangkang apabila tidak menuruti nasehat orang tua menjadikan Kak Pepi seorang pemalas, bahkan ibu Kak Pepi pun pernah dipanggil oleh Guru karena Kak Pepi sering cabut dari sekolah, sekolah pun hanya menjadi tempat membosankan bagi Kak Pepi, belum lagi kadangkala di-bully oleh teman-tema yang hanya menambah kebosanan untuk berada di sekolah, pulang larut malam, bermain game online di warung internet atau play station seakan hidupnya tak ada aturan dan ibunya pun telah lelah melihat tabiat Kak Pepi dengan semua amarah dan nasehat yang diberikan kepadanya tak ada gunanya ibarat masuk kuping kanan keluar kuping kiri.

Akan tetapi, pola hidup Kak Pepi tersebut berubah 180 derajat, setelah Kak Pepi dinyatakan terpilih mewakili Indonesia dalam program pertukaran pelajar selama satu tahun di negeri Amerika sana, suatu prestasi yang tak pernah Kak Pepi duga sebelumnya, dapat merambah negeri yang begitu jauh dari Indonesia di usianya yang bahkan belum mencapai 17 tahun, orang tua dan keluarganya pun begitu bangga kepada Kak Pepi, ternyata terlepas dari kenakalan yang ia kerap perbuat, ternyata ia dapat membahagiakan keluarga. Setahun mengarungi lautan di negeri seberang, sebagai duta muda Indonesia, ia berusaha sebaik mungkin dapat merepresentasikan negeri ini, mempromosikan, mengenalkan budaya Indonesia, tak lupa mengajarkan mereka sedikit silat sebagai seni beladiri khas bangsa ini, setahun berada disana, Kak Pepi menorehkan beberapa prestasi, United Honor Roll Students karena GPA (IPK) Kak Pepi selama bersekolah disana mencapai 4.0, atau terpilih menjadi Junior Most Improved Player di olahraga tenis, Scholar athlete atau atlet yang berprestasi, mendapatkan beasiswa untuk mengikuti konferensi di Walt Disney World, Florida, atau mendapatkan ucapan selamat dan surat dari US President, Barack Obama untuk pencapaian volunteer hours-nya.

Kembali ke Indonesia, melanjutkan pendidikan SMA untuk satu tahun lagi, walaupun ia harus tinggal kelas, dalam artian harus menyelesaikan 4 tahun untuk bangku SMA karena 1 tahun saat di Amerika tidak dapat dihitung, di saat teman-temannya telah pergi ke perantauan untuk jenjang Perguruan tinggi, Kak Pepi bersama 3 temannya yang juga terpilih di program yang sama harus melanjutkan setahun lagi sebelum menyelesaikan bangku SMA ini, akan tetapi pengalaman yang begitu tak terlupakan yang sangat berharga bagi masa depannya, tak akan menjadi penyesalan kehilangan satu tahun baginya. Kini, lika-liku kehidupan Kak Pepi menyandang status sebagai seorang mahasiswa mengalami pasang surut, kadang di atas, kadang di bawah, begitupun yang pasti dialami setiap makhluk bumi ini, tidak selamanya kita harus meratapi kekurangan yang kita miliki dan terus menjadi bulan-bulanan kerasnya hidup, setiap manusia harus mampu berjuang untuk mengatasinya, bak air mengalir, tak selamanya mengalir dengan tenang, kadangkala harus terbentur oleh batu atau apapun yang menjadi penghalang, namun kerja keras air untuk tetap mengalirkannya ke pelosok negeri berbuah manis, senada dengan hidup ini. 2 tahun yang Kak Pepi jalani ini pun tidak selalu indah.

Jika Kak Pepi disuruh memilih pencapaian terbesar dalam hidupnya, maka Kak Pepi akan memilih pemberian predikat Mahasiswa Berprestasi, karena Kak Pepi merasa memiliki tanggungjawab besar yang ia emban di pundaknya. Semua berawal pada tahun 2014, sekitar bulan Oktober, ketika itu dulu di Fakultas, Kak Pepi kebetulan sedang mengurus keperluan administratif di loket akademik, ia melihat ada info sedang dibuka pendaftaran untuk Mahasiswa Berprestasi Fakultas Hukum tahun 2015, sontak kabar menggembirakan ini membuncah sanubari hatinya, kesempatan yang telah ia tunggu-tunggu dari awal menginjakkan kaki di Fakultas Hukum pada Agustus 2012 dan bucket list yang terpampang di dinding kamar kosnya untuk menjadi Mahasiswa Berprestasi UGM tahun 2015 terbuka lebar. Kak Pepi sempat berpikir dua kali untuk mendaftar pada tahun 2015 atau menunggu tahun berikutnya, akhirnya setelah memutuskan ia akan mencoba peruntungannya di tahun 2015. Singkat cerita, setelah ditetapkan sebagai Mapres FH waktu itu, Kak Pepi diberikan kepercayaan mewakili fakultas sebagai satu-satunya representasi Fakultas Hukum di tingkat Universitas. Bertemu dengan 43 wajah-wajah yang bercahaya, rekan-rekan Mapres lain dengan segudang prestasinya yang sangat brilian dan cemerlang membuatnya bersyukur dan bangga telah diberikan kesempatan disejajarkan dengan insan berprestasi dari berbagai fakultas dan sekolah vokasi UGM. Suatu momen yang begitu memorable baginya.

Untuk mencapai predikat ini, banyak lika-liku perjalanan hidup yang Kak Pepi lalui di bangku perkuliahan ini. Dimulai dari tahun pertama, tak banyak yang ia raih karena ia masih meraba-raba mencari prioritas diantara segudang kesempatan yang ada, dua diantaranya adalah dimana ia bersama delegasi lain diberikan kesempatan menjadi delegasi pada Asian Law Students’ Association (ALSA) Conference, South Korea, meraih juara tiga pada National English Competition Paper Presentation yang diselenggarakan oleh ALSA LC UI dan organisasi-organisasi serta kepanitiaan-kepanitiaan yang ia lalui baik sebagai staff, koordintor hingga menjadi Project Officer. Di Tahun kedua, mungkin dikatakan adalah puncak dari pencapaian Kak Pepi, seperti terpilih menjadi peserta Indonesia Leadership Camp (ILC), Indonesia Entrepreneurship Camp, Beasiswa sebagai delegasi Indonesia pada APEC Voices of the Future di Bali, dimana ia berkesempatan bertemu kepala negara/pemerintah dan CEO-CEO yang selama ini hanya ia lihat dari layar televisi saja. Di kancah Internasional, ia meraih beasiswa oleh Kyushu University untuk mengikuti Short Course Asean in Today’s World, Ateneo de Manila University, The Philippines dan beasiswa oleh The Fund for American Studies pada summer school Asia Institute Political and Economy Programme, University of Hong Kong. Kak Pepi juga berusaha meningkatkan kemampuan pada aspek profesionalitas dan team work  dengan terlibat dengan beberapa organisasi intra maupun ekstra kampus, dimana untuk tahun kedua ini ia mendapatkan amanah sebagai Coordinator of Legal Event of ALSA LC UGM serta ia juga merupakan Ketua Angkatan 2012 ALSA LC UGM. Selain itu, ia bersama beberapa alumni ILC adalah founder dari Nusantara Young Leaders, dan di tahun pertama ia menjabat sebagai Vice President of Internal. Di tahun ketiga ia memfokuskan waktu pada amanah di ALSA serta mendapat 2 pencapaian yaitu Best Delegate in ALSA International Study Trip Indonesia dan National Champion of National Selection of The Louis M. Brown and Forrest S. Mosten International Client Consultation Competition. Di tahun 2015 Kak Pepi juga diamanahkan sebagai Director of ALSA LC UGM setelah ia diamanahkan juga beberapa bulan sebelumnya sebagai Mapres.  Begitulah kurang lebih pencapaian-pencapaian yang Kak Pepi usahakan untuk mencapai targetnya sebagai Mapres, walaupun kesannya semuanya begitu indah dilalui, namun banyak pengorbanan yang ia lewati, dimulai dari indeks  prestasinya yang menurun walaupun masih cumlaude, keterbatasan finansial, pro dan kontra di antara keluarga karena Kak Pepi kesannya menomorduakan akademik, waktu istirahat yang berkurang, serta permasalahan internal lainnya. At the end, beragam hambatan tersebut hanyalah sebagai bumbu pemanis dalam sebuah masakan, agar perjalanan yang dilalui tidak berjalan dengan mulus, justru dengan hambatan itu lah makes him always stronger dan tougher.

Banyak cerita unik di setiap momen road to Mapres yang selalu meninggalkan kesan tersendiri dan cerita unik di dalamnya, mulai dari language barrier dengan locals ketika Kak Pepi di Korea atau Filipina, sehingga ia harus menggunakan Bahasa isyarat yang sangat ampuh, atau ketika di Hong Kong dimana untuk menghemat pengeluaran  selama 1 bulan disana, ia menyetok mie instan, sereal, roti dan bubur instan sebagai makanan saat sahur dan berbuka puasa, dan banyak cerita-cerita unik lain yang terkadang membuatnya tersenyum kembali ketika mengingatnya. Pada akhirnya Kak Pepi sangat bersyukur, karena tidak hanya bagaimana agar ia bisa ke Luar Negeri, tetapi justru perjuangan pra-keberangkatan atau ketika berada disanalah yang lebih menantang, sungguh sayang ketika kita hanya membanggakan diri bisa ke luar negeri hanya untuk kepentingan individual, urgensinya adalah ketika kita kembali kita dapat menyebarkan virus positif, dan berbagi kebahagiaan dengan sesama.

Yang melatarbelakangi seorang Muhammad Rizki untuk menjadi seperti sekarang ini dimulai dari masa tumbuh-kembangnya, cita-citanya yang selalu berubah, dimulai dari waktu kecil menjadi astronot, guru, hingga dokter. Keinginan menjadi dokter tertempa pada dirinya hingga tingkat SMA kelas XI. Menyadari kemampuan dalam bidang sains yang tidak cukup mumpuni, membuat ia berpikir ulang akan masa depannya, setelah berkonsultasi dan bertanya-tanya kepada senior, guru konseling dan kolega-koleganya, ia memutuskan ingin menjadi Diplomat one day. Walaupun agak sulit meyakinkan orang tuanya karena ibunya menginginkan ia menjadi seorang dokter, namun sepulangnya ke tanah air dari negeri Paman Sam, orang tuanya memberikan support padanya sepenuhnya. Hingga ia memutuskan untuk mengambil jurusan Hukum dengan konsentrasi Hukum Internasional agar ketika ia wisuda nanti, ia tidak hanya memahami unsur diplomatic relation tetapi juga mempunyai spesialisasi sebagai sarjana Hukum. Di usiamya 22 tahun ini, jika ia melihat kembali ke belakang, bagaimana terjalnya perjalanannya, yang begitu fluktuatif membuat ia selalu mengucapkan rasa terimakasih  yang paling mendalam kepada Sang Pencipta, Allah SWT, atas kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, ia merasa sangat beruntung diberikan anugerah hingga ke posisi saat ini, dapat bersekolah dari SMP dan SMA terbaik di kota atau bahkan Provinsi Sumatera Barat, kesempatan belajar ke negeri seberang ketika baru menginjak usia 17 tahun, lulus diterima di Ritsumeikan Asia Pacific University, Japan, President University, UI dan UGM, sebelum ia memutuskan UGM adalah pelabuhan selanjutnya, perjalanan ketika merantau di bumi Ngayogyakarto ini yang begitu berwarna dan indah. Semuanya pada akhirnya membuat ia terusbersyukur seraya harus terus mengembangkan potensi, meningkatkan kualitas diri hingga ia mencapai cita-citanya nanti, dan tentunya untuk selalu berbagi, menularkan apa yang telah ia dapatkan kepada orang lain, karena ia yakin the power of giving itu merupakan puncak dari kebahagiaan hakiki seseorang. Bukan soal how much you can gain, but how much you can give, itulah defisini tepat dari rich people.

 

 

Sumber:

http://www.inspiratorfreak.com/tag/muhammad-rizky/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *